Share to Facebook Share to Twitter Stumble It More...
Silahkan klik jika anda butuh info dibawah ini

Terima Menjadi Agen Pulsa All Operator + Pendaftaran Gratis


DAFTAR ISI

Widget by 3dho

Mau Seperti ini..? Klik
Tampilkan postingan dengan label Studi Kasus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Studi Kasus. Tampilkan semua postingan

Studi Kasus Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
pada UKM Dengan Sumber Daya Terbatas

Studi Kasus Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
pada UKM Dengan Sumber Daya Terbatas

Muhammad Rahmad dan Zaitun A. B.

Departemen Ilmu Informasi,
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi,
Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.
Tel: +603 79676432
rahmad@kbrisingupura.com
zab@um.edu.my

Abstraksi

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran yang sangat penting terhadap ekonomi Indonesia. Pada 2006, UKM memberi kontribusi Rp1.778,75 triliun atau sekitar 53,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam persaingan global, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memainkan peranan yang sangat penting. UKM akan kesulitan bersaing secara efektif apabila tidak menggunakan TIK. Masukan dari UKM, mereka kesulitan dalam mengimplementasikan TIK disebabkan karena tantangan yang sangat kompleks dan sumber daya yang dimiliki UKM yang sangat terbatas seperti keterbatasan anggaran, tenaga kerja dan tenaga ahli.
Dalam makalah ini, kami menampilkan kepada pembaca studi kasus pada sebuah organisasi dalam usaha mereka melakukan implementasi TI dengan sumber daya terbatas. Makalah ini kami awali dengan pendahuluan tentang implementasi TI dan pengaruhnya secara umum terhadap organisasi. Selanjutnya, kami kemukakan keuntungan dan tantangan yang dihadapi organisasi dalam usaha melakukan implementasi TI untuk mencapai visi dan misi mereka. Kemudian diikuti dengan pengenalan tentang organisasi yang kami jadikan studi kasus. Fokus dari makalah ini selanjutnya langsung kepada model implementasi TI oleh organisasi. Model ini kemudian dibandingkan dengan model implementasi TI lainnya yang digunakan oleh organisasi UKM lain.

Kata kunci: Implementasi TI, Pengaruh, Tantangan, Model-model

1. PENDAHULUAN
Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM) memiliki tantangan yang sangat komplek. Banyak UKM yang menemui kesulitan dalam melakukan implementasi TIK dan bahkan banyak pula yang gagal.
Dari hasil investigasi, kesulitan utama yang dihadapi UKM dalam implementasi TIK adalah keterbatasan dalam sumber daya, dan kegagalan dalam implementasi TIK, umumnya disebabkan oleh sumber daya terbatas yang dimiliki oleh perusahaan (IPS, 2007; Ernest-Jones, 2007; Hawlett-Packard, 2007; Doucet, 2007). Wujud sumber daya terbatas dapat dilihat seperti; tidak sanggup mempekerjakan tenaga ahli; tidak memiliki anggaran atau biaya untuk implementasi atau menyewa konsultan membangun, mengoperasikan dan merawat TIK; tidak sanggup mempekerjakan tenaga kerja untuk mengoperasikan dan merawat sistim yang sudah dibangun (Boekhoudt et al., 2004; OECD, 2004).
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran yang sangat penting, karena sekitar 95% rata-rata ekonomi satu Negara di jalankan oleh UKM (Kotelnikov, 2007). UKM juga bisa dikatakan sebagai sumber utama pendapatan Negara, bisa menciptakan banyak entrepreneur dan membuka ratusan ribu kesempatan kerja (Unindo, 2003). Sampai Juli 2006, hampir 140 juta UKM di 130 negara mempekerjakan sekitar 65% total tenaga kerja (World Bank (1), 2006). Di Indonesia misalnya, peran penting UKM dapat dilihat pada statistik 2006. Menurut Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, populasi UKM Indonesia pada 2006 mencapai 48,9 juta unit usaha atau 99,98% terhadap total unit usaha. Sementara jumlah tenaga kerjanya mencapai 85,4 juta orang atau 96,18% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Pada 2006, UKM memberi kontribusi Rp1.778,75 triliun atau sekitar 53,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (Sukandar, 2007). Sangat jelas terlihat bahwa UKM adalah motor penggerak inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Negara-negara di dunia saat ini sudah bergerak dari ekonomi yang berdasarkan industri (industrial based economy) menuju sebuah ekonomi yang berdasarkan pengetahuan (knowledge based economy). Salah satu ciri knowledge based economy adalah memanfaatkan TIK secara efektif (Kotelnikov, 2007). Persaingan global yang didasarkan pada knowledge base economy menggunakan TIK, memberikan pengaruh langsung kepada UKM, baik pengaruh positif maupun negatif.
Pengaruh positif, UKM dapat menikmati berbagai keuntungan dari implementasi TIK. UKM dapat berkomunikasi secara cepat, meningkatkan produktifitas, membangun peluang bisnis baru, dan mereka juga dapat terhubung ke jaringan global (Moodley, 2002). Mereka dapat menggunakan websites dan e-mail untuk meningkatkan kualitas layanan dan memperluas jaringan pelanggan (Raymond, et al., 2005). TIK juga dapat membantu UKM dalam penghematan pengeluaran biaya (Kotelnikov, 2007).
Pengaruh negatif, UKM yang belum menggunakan TIK akan sulit bersaing secara efektif. Sebagai contoh, 60% pemesanan produk Intel dilakukan secara elektronik (Bernama, 2005). Karena e-procurement sudah menjadi pilihan dunia usaha dan pemerintah, UKM yang tidak mempunyai kemampuan dalam penggunaan TIK tidak lagi akan dipilih menjadi business partners (Kotelnikov, 2007). Pengaruh negatif yang lebih parah lagi adalah apabila terjadi kegagalan dalam implementasi. Citra perusahaan dapat menjadi buruk, ditinggalkan pelanggan, kerugian dalam investasi dan sulit untuk dipercaya kembali oleh investor (Ernest-Jones, 2006).
Implementasi TIK seperti jaringan komputer (computer network), akses internet (internet access), email, dan website adalah kebutuhan dasar UKM untuk bisa mengikuti persaingan global (OECD, 2004). Banyak UKM yang sudah melakukan implementasi TIK, tetapi faktanya, TIK yang sudah diimplementasikan tidak memberikan manfaat kepada perusahaan atau implementasi TIK nya gagal.
Dalam makalah ini, kami menampilkan kepada pembaca studi kasus pada sebuah organisasi dalam usaha mereka melakukan implementasi TI dengan sumber daya terbatas. Makalah ini kami awali dengan pendahuluan tentang implementasi TI dan pengaruhnya secara umum terhadap organisasi. Selanjutnya, kami kemukakan keuntungan dan tantangan yang dihadapi organisasi dalam usaha melakukan implementasi TI untuk mencapai visi dan misi mereka. Kemudian diikuti dengan pengenalan tentang organisasi yang kami jadikan studi kasus. Fokus dari makalah ini selanjutnya langsung kepada model implementasi TI oleh organisasi. Model ini kemudian dibandingkan dengan model implementasi TI lainnya yang digunakan oleh UKM lain.

2. IMPLEMENTASI TI PADA UKM
Dari hasil studi diketahui bahwa perusahaan yang menggunakan TI memperoleh berbagai keuntungan. Penggunaan email untuk berkomunikasi dengan pelanggan misalnya, dapat meningkatkan penjualan 3,4% lebih cepat dari yang tidak menggunakan email (Qiang, et al. 2006). Studi lainnya pada perusahaan manufaktur di Kanada, penggunaan e-business telah menaikkan tingkat pertumbuhan penjualan domestik 4% dan ekspor 5% (Raymond, et al., 2005). Meskipun TI telah diyakini dapat memberikan keuntungan yang besar kepada perusahaan, dalam kenyataannya, masih sangat sedikit UKM khususnya di Negara berkembang, yang menggunakan TI. Bahkan, diantara UKM yang menggunakan TI, sebagian besar mengalami kesulitan dalam implementasi atau TI yang diimplementasikan tidak memberikan manfaat yang positif kepada perusahaan (Kotelnikov, 2007).
Beberapa contoh kesulitan atau kegagalan dalam implementasi TI dapat dilihat, misalnya dari studi yang dilakukan Conference Board Kanada terhadap 117 perusahaan pada 2001 yang menunjukkan, 40% proyek TI gagal, dan 25% proyek TI melebihi budget (Kerr, 2006). Studi yang sama juga dilakukan oleh Robbins-Gioia LLC, sebuah perusahaan konsultan manajemen di Alexandria, Virginia-Amerika Serikat, dan menemukan 51% proyek ERP (Enterprise Resources Planning) tidak sukses dilaksanakan (Kerr, 2006). Studi oleh Mercury bekerjasama dengan the Economic Intelligent Unit (EIU) terhadap 1077 perusahaan dunia pada 2005-2006, menemukan hanya satu atau dua proyek implementasi yang memberikan manfaat positif kepada perusahaan (Ernest-Jones, 2007). Economict Intelligent Unit (EIU) juga melakukan studi yang sama terhadap 1125 perusahaan di Asia Pasifik. Hasilnya, 61% proyek implementasi tidak memberikan keuntungan yang positif kepada perusahaan. Khusus untuk Singapura, ketidak-berhasilan itu mencapai 74% dan di Malaysia mencapai 93% (Choudhury, 2007).
Implementasi TI pada UKM yang memiliki sumber daya terbatas (seperti keterbatasan biaya, tenaga kerja dan tenaga ahli), memiliki tantangan yang sangat kompleks. Tantangan tidak hanya berasal dari masalah kemampuan perusahaan atau organisasi, tetapi juga terkait dengan masalah pemerintah (Kotelnikov, 2007; OECD, 2004; OECD, 2002). Tantangan lainnya adalah TI yang bagaimanakah yang bisa memberikan keuntungan kepada perusahaan. (Qiang, et al, 2006). Tantangan dalam implementasi TI dapat dikelompokkan kedalam 3 (tiga) perspektif, yakni; tantangan dalam perspektif organisasi, perspektif tekhnis, perspektif non-tekhnis lainnya.

Perspektif Organisasi
Dalam perspektif organisasi, diantara tantangan yang dihadapi adalah TI yang diimplementasikan tidak sesuai dengan kondisi perusahaan. Hal itu disebabkan karena perusahaan tidak memiliki tenaga ahli TI dan manajemen dan karyawan tidak mengerti dalam penggunaan TI sehingga muncul antipati (resistance), adanya keraguan tentang biaya yang digunakan dan keuntungan yang akan diperoleh, pelanggan sulit dalam mengakses internet, apakah keamanan bertransaksi terjamin atau tidak, biaya untuk pembelian peralatan terlalu mahal, biaya untuk pembangunan dan perawatan TI tidak tersedia (Kotelnikov, 2007; OECD, 2004; OECD, 2002).

Perspektif Tekhnis
Dalam perspektif tekhnis, isu implementasi terkait dengan masalah ketersediaan infrastruktur seperti koneksi internet, jaringan telekomunikasi, harga yang kompetitif diantara operator (Matthews, 2007), dan payung hukum (legal framework) (OECD, 2004). Dibeberapa negara berkembang, isu teknis lainnya seperti ketersediaan aliran listrik yang stabil juga menjadi perhatian utama (Matthews, 2007). Akan sangat sulit bagi UKM mengembangkan TI diperusahaannya, apabila infrastruktur TI yang diperlukan tidak tersedia diwilayah itu. Atau, pelanggan yang bertempat tinggal diwilayah itu tidak memiliki kemampuan atau akses kepada TI yang diimplementasikan. UKM juga akan kesulitan dalam implementasi apabila harga infrastruktur masih tergolong mahal atau diluar jangkauan kemampuan UKM. Kepastian hukum dari pemerintah juga akan sangat mempengaruhi jenis TI yang bisa diimplementasikan. Sebagai contoh, jika pemerintah belum menetapkan legal framework untuk bisnis e-commerce, maka tentu UKM akan sulit untuk mengimplementasikan e-commerce.

Perspektif Non-Tekhnis
Dalam perspektif non-teknis (hubungan antar manusia), isu implementasi terkait dengan perilaku pengguna (Usoro, 2000), keamanan dan kepercayaan (Skordas, 2007; Brett, 2003). Perilaku pengguna yang tanpa arah (blind user) akan sangat berpotensi memicu terjadinya kerusakan pada infrastruktur dan sistem TI. Keamanan sistem dan kepercayaan juga menjadi perhatian khusus, karena perusahaan akan terus merasa bimbang dengan keamanan data perusahaan apabila TI yang dibangun tidak aman dan terpercaya (Brett, 2005). Isu keamanan tidak hanya menyangkut pengamanan secara fisik, tetapi juga pengamanan non fisik seperti lalu-lintas atau transaksi melalui jaringan.
Terkait dengan TI yang bagaimanakah yang bisa memberikan keuntungan kepada perusahaan, hal itu sangat ditentukan oleh strategi dan manajemen implementasi serta proses pembangunan teknologi yang digunakan (Qiang, et al., 2006; Ugwu et al., 2007).

3. STUDI KASUS
Tuan X adalah General Manager A Company, sebuah perusahaan perkapalan yang berbasis di Singapura. Sebagai perusahaan UKM muda yang terus berkembang, Tuan X menginvestasikan sebagian modal perusahaan untuk promosi di media cetak dan elektronik, serta melatih kemampuan karyawan melalui berbagai kursus. Untuk mendukung kerja karyawan, A Company menggunakan komputer dasar (Basic PC) yang dilengkapi dengan office software. Seperti kebanyakan UKM lainnya, A Company juga memiliki akses internet yang hanya dapat digunakan secara terbatas di beberapa PC. A Company memiliki satu buah email resmi yang masih menggunakan domain dari ISP (Internet Service Provider). Untuk komunikasi dilingkungan karyawan, mereka menggunakan fasilitas email gratis yang banyak tersedia di internet. Email gratis ini kadang juga digunakan untuk berkomunikasi dengan supplier dan pelanggan.
Sebagai perusahaan UKM yang terus berkembang cepat, Tuan X mulai berfikir untuk mengembangkan A Company lebih professional. Harapan Tuan X, calon pelanggan potensial, pelanggan, supplier dan karyawan lebih mengenal A Company. Disisi lain, ia juga berharap agar cara yang digunakan lebih efisien, hemat biaya, tetapi menampilkan sosok perusahaan yang meyakinkan atau bonafit. Tuan X meyakini, bahwa berkomunikasi menggunakan alamat email atau domain sendiri; promosi melalui website sendiri; data yang terintegrasi dan dapat diakses disemua komputer perusahaan akan dapat membawa perusahaan menjadi lebih profesional.
A Company tidak memiliki departemen khusus untuk menangani TI. Untuk mewujudkan keinginannya, Tuan X meminta bantuan perusahaan khusus TI. Implementasi TI dikerjakan oleh perusahaan TI (sebagai pemenang tender) dalam jangka waktu kontrak 1 tahun, Dalam proses implementasi, Tuan X menyerahkan tugas dan tanggung-jawab kepada bawahannya. Semua karyawan dilibatkan dalam pertemuan dan diskusi dengan perusahaan pembangun TI. Dari waktu kontrak 1 tahun yang disepakati, TI yang bisa diimplementasikan adalah pembangunan jaringan komputer, akses internet, email, dan pembangunan data terpusat. Sedangkan untuk website belum bisa dikerjakan sepenuhnya karena sebagian besar waktu yang tersedia habis digunakan untuk menyatukan keinginan para pihak yang terkait dalam implementasi.
Meskipun demikian, sistem yang dibangun mulai dirasakan manfaatnya oleh A Company. Komunikasi melalui email mulai dapat dilakukan karyawan dengan supplier dan pelanggan. Pengambilan keputusan sudah mulai bisa dilakukan dengan cepat karena data yang diperlukan sudah terpusat. Tuan X juga merasakan terjadinya penghematan dalam penggunaan kertas dan alat tulis, karena perusahaan mulai menerapkan e-document. Namun demikian, kepuasan Tuan X tidak bertahan lama, karena sistem TI mulai menimbulkan masalah. Hal itu misalnya terjadi pada email yang mengalami over quota dan dibanjiri virus, sehingga komunikasi perusahaan dengan pelanggan menjadi terputus dan komputer perusahaan menjadi rusak. Hal yang terjadi tidak hanya membuat kerjaan perusahaan menjadi terganggu, tetapi berbagai peluang bisnis menjadi hilang. Citra perusahaan dimana supplier dan pelanggan menjadi berubah dan A Company harus menanggung kerugian investasi.
Tuan X baru menyadari bahwa implementasi TI yang dilakukan belum memberikan hasil positif secara keseluruhan kepada perusahaannya. Ditambah lagi ia harus menyiapkan budget tambahan untuk memperbaiki sistem jaringan yang rusak. Kekecewaan Tuan X bertambah ketika budget yang diusulkan dalam proposal implementasi tidak termasuk biaya perawatan. Tuan X akhirnya memutuskan untuk menghentikan proyek pengerjaan website, karena TI yang sudah diimplementasikan merugikan perusahaan dan menghabiskan budget yang sudah dialokasikan sebelum keseluruhan proyek selesai dilaksanakan.

4. MODEL IMPLEMENTASI
Menggunakan model dalam implementasi dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain; memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang tertinggal; menyiapkan sebuah bingkai dasar kerja untuk lahirnya sebuah disain; menciptakan konsistensi dalam berkreasi, memastikan semua kerjaan dapat dilakukan tepat waktu, dan memberikan kenyamanan kepada pihak manajemen dan konsumen; memberikan kesempatan kepada pihak manajemen dan konsumen untuk menyocokkan keinginan mereka dengan disain yang dirancang (Teare, 2007).
Model memainkan peranan yang sangat penting, karena keberhasilan dalam pembangunan TI sangat ditentukan oleh model yang digunakan (O’brein, 2006). Model yang umum digunakan untuk implementasi adalah Waterfall Cycle (siklus air terjun) dan Spiral Cycle (siklus spiral) (Thomson, 2000). Disamping itu, ada pula model lain yang digunakan untuk implementasi TI di UKM, seperti model kolaborasi versi SITF (SITF, 2006).

Model Waterfall cycle
Model Waterfall cycle dipopulerkan pertama kali oleh Winston W. Royce pada 1970. Model ini pada awalnya digunakan untuk pembangunan software, namun dalam perjalanannya, ia juga diadaptasi untuk pembangunan TI dalam spektrum yang lebih luas. Menurut Schach (1999), model waterfall hanya populer digunakan sampai awal 1980-an.
Tahapan implementasi menggunakan Model Waterfall cycle, terdiri dari;
1. Kumpulkan syarat-syarat yang diperlukan
2. Lakukan disain
3. Lakukan pemograman
4. Lakukan integrasi
5. Penyelesaian akhir
6. Penjagaan dan perawatan

Model Waterfall cycle
Keuntungan dari model waterfall adalah; Pengujian dilakukan tidak hanya pada akhir pengerjaan. Setiap fase yang dikerjakan selalu dilakukan pengujian (testing) (Schach, 1999). Pengujian mencakup dua tindakan; yaitu verifikasi dan validasi (V & V). Keuntungan lainnya adalah semua rencana dikerjakan harus menurut fase. Semua unsur yang terlibat mengetahui dengan pasti setiap perkembangan. Perkiraan kapan selesainya implementasi juga lebih mudah diketahui karena dapat dikenali melalui tahapan-tahapan model waterfall. Bagaimanapun, model waterfall memiliki kelemahan, yaitu tidak dimungkinkannya melakukan revisi atau perbaikan. Satu kali sudah melewati fase pengujian, akan sangat sulit untuk kembali dan melakukan perubahan (Thomson, 2000).
Pembangunan TI menggunakan model waterfall memiliki ciri khas prosedural dan kesempurnaan. Hal-hal yang diperlukan pada tahap tertentu harus dikerjakan sampai tuntas sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Apabila tidak mengikuti prosedur dan syarat-syarat yang telah ditetapkan, maka kemungkinan keterlambatan (project delay) atau kekurangan biaya (over budget) bisa terjadi. Model waterfall hanya sempurna dari segi konsep tetapi sangat sulit diterapkan dalam praktek, karena hampir mustahil terjadi kesempurnaan disetiap tahapan (Parnas, 2006).

Model Spiral cycle
Disebut spiral cycle karena tahapannya selalu berputar seperti spiral. Model ini dikemukakan pertama kali oleh Barry Boehm dalam artikel A Spiral Model of Software Development and Enhancement pada 1988. Spiral merupakan pengembangan dari waterfall cycle dan banyak digunakan dewasa ini (Thomson, 2000). Prinsip utama dari model spiral cycle adalah mengantisipasi perubahan manajemen organisasi atau perusahaan. Perubahan manajemen seringkali menyebabkan perombakan disain implementasi yang sudah dirancang (Teare, 2007). Model spiral cycle memiliki 6 tahapan;
1. Persiapan
2. Perencanaan
3. Disain
4. Implementasi
5. Pengoperasian
6. Optimalisasi

Model Spiral cycle
Setiap tahapan memiliki syarat-syarat yang harus dilengkapi (formal requirements). Perusahaan atau vendor TI merumuskan, mengkaji, menganalisa syarat-syarat formal yang diperlukan untuk setiap tahapan. Model ini juga menekankan pentingnya mengikuti tahapan atau prosedur yang sudah ditentukan. Perbedaannya dengan model waterfall adalah, model spiral menggabungkan konsep prototype dengan konsep waterfall. Yang menonjol dari konsep prototype adalah; untuk bisa melangkah ke tahap berikutnya tidak perlu menunggu kesempurnaan.
Kelebihan dari model spiral adalah penyelesaian dan biaya proyek lebih mudah diperkirakan, karena hal-hal penting sudah dapat diketahui lebih awal yaitu pada saat pembuatan prototype. Sedangkan kelemahan dari model spiral adalah melibatkan banyak pihak, biaya mahal, dan proyek cenderung bersifat kompleks (Wikipedia, 2008).

Model Kolaborasi
Model ini digunakan oleh Singapore Infocomm Technology Federation (SITF) berdasarkan studi kasus implementasi TI pada sebuah UKM di Singapura pada 2006.
Jika model waterfall cycle dan spiral cycle menggunakan 6 tahapan implementasi, maka model kolaborasi versi SITF hanya menggunakan 3 tahapan, yaitu;
1. Identifikasi jenis TI yang diperlukan perusahaan.
2. Pilih dan tentukan Perusahaan Vendor TI.
3. Serahkan penyediaan dan pengelolaan TI kepada vendor.
Pada tahap identifikasi, SITF menggaris-bawahi 3 hal yang perlu dilakukan, yaitu; pahami keperluan perusahaan, tentukan TI yang tepat, dan rumuskan jenis proyek yang akan dilakukan.
Model ini menggaris-bawahi pentingnya UKM yang bergerak dibidang bukan TI untuk fokus kepada bisnis utamanya. Untuk pengerjaan proyek implementasi TI, agar dilakukan oleh perusahaan yang bergerak dibidang implementasi TI. Jadi ada kerjasama atau kolaborasi antara UKM yang bukan bergerak dibidang TI dengan perusahaan yang bergerak dibidang TI. Model ini juga menekankan pentingnya perusahaan memilih dan menentukan perusahaan vendor TI yang akan mengerjakan proyek impementasi. Dan yang paling menarik dari model ini adalah, pembangunan dan perawatan TI sepenuhnya diserahkan kepada vendor.
Disatu sisi, kolaborasi seperti ini akan menguntungkan UKM, karena pengawasan TI dapat dilakukan terus-menerus oleh perusahaan TI. Keuntungan lainnya adalah mungkin dari segi biaya dan perawatan, apabila kualitas TI yang dibangun bagus. Sebaliknya, apabila kualitas TI yang dibangun tidak bagus, perusahaan akan mengalami kerugian besar. Kasus yang dialami oleh A Company sebagaimana yang dikemukakan di studi kasus misalnya, perusahaan mengalami kerugian karena kualitas TI yang dibangun vendor atau realisasi dari konsep yang sudah disusun tidak memuaskan. Jadi, kelemahan utama dari model kolaborasi adalah kualitas pembangunan TI sangat ditentukan oleh pengalaman dan kemampuan vendor.

5. DISKUSI
Dalam kenyataannya, model implementasi seperti; waterfall, spiral, dan kolaborasi, masih sulit dijadikan model untuk implementasi TI pada UKM yang memiliki sumber daya terbatas. Jika model waterfall sempurna dalam konsep namun sulit dalam realisasi, maka model spiral melibatkan banyak pihak, biaya mahal, dan proyek cenderung bersifat kompleks. Disisi lain, model kolaborasi juga memiliki kelemahan karena implementasi didasarkan kepada pengalaman dan kemampuan vendor.
Dalam upaya merumuskan sebuah model yang diharapkan akan menjadi model yang paling sesuai buat UKM, ada beberapa hal terkait yang perlu didiskusikan;

Proses usaha (Business Process)
Perusahaan selalu menginginkan agar visi dan misi yang sudah dirumuskan bisa terwujud. Untuk mewujudkan tujuan itu, perusahaan harus mengintegrasikan TI dengan proses usaha mereka (Boisvert, 2006).
Secara umum, proses usaha terdiri dari 3 proses, yaitu; proses manajemen (management process), proses operasional (operational process), dan proses pendukung (supporting process) (Wikipedia, 2008). Proses manajemen terdiri dari supplier, sumber daya manusia, dan pelanggan. Proses operasional terdiri disain produk, pembuatan produk, produk, gudang/penyimpanan, pemasaran, penjualan, pengaturan pemesanan, dan pelayanan pasca penjualan. Sedangkan proses pendukung terdiri dari informasi, promosi, transaksi, dan relasi.
Sketsa berikut ini menggambarkan bagaimana TI berintegrasi dengan proses usaha.
Implementasi TI yang berpedoman kepada visi dan misi perusahaan, akan melekat pada proses pendukung. TI akan memainkan peranan sebagai alat pendukung informasi, alat pendukung promosi, alat pendukung transaksi, dan alat pendukung relasi. Integrasi TI pada proses pendukung, juga berintegrasi dengan proses manajemen dan operasional. TI berperan menghubungkan perusahaan dengan supplier dan menghubungkan perusahaan dengan pelanggan. TI juga berperan dalam proses produksi, penjualan, dan pelayanan pasca penjualan.
Setiap perusahaan memiliki visi dan misi. Pembangunan proses usaha, menurut konsep ideal, dibangun berdasarkan visi dan misi perusahaan. Mengenali proses usaha sebuah UKM dalam implementasi TI adalah sangat penting, karena TI akan bisa berintegrasi apabila proses usaha sudah diketahui. Kegagalan dalam mengenali proses usaha sebelum melakukan implementasi TI akan berakibat kepada kegagalan dalam pencapaian visi dan misi perusahaan.

Integrasi dengan legacy system
Isu terkait lainnya yang perlu didiskusikan adalah masalah integrasi sistem TI baru dengan legacy system. Sistem TI dijadikan alat oleh perusahaan dalam mendukung proses usaha. Karena itu, sistem TI yang dibangun haruslah bisa digunakan untuk beberapa tahun. Sistem TI yang sudah lama atau sudah tidak reliable akan mudah mengalami kerusakan. Apabila itu terjadi, maka ia akan memberikan efek serius kepada usaha yang dijalankan.
Agar efek serius yang dialami perusahaan tidak bertambah parah, maka sistem lama yang sudah tidak reliable yang masih digunakan (legacy system), perlu diganti atau diremajakan dengan sistem baru. Integrasi sistem baru dengan legacy system memiliki resiko yang besar (Chowdhury et al., 2004). Diantara resiko itu adalah; (1) Legacy system tidak memiliki spesifikasi yang lengkap, sehingga sulit mengetahui keberadaan sistem baru bisa diterima atau tidak; (2) Proses usaha dan legacy system terkait satu sama lain. Jika sistem diganti, maka proses usaha juga harus dirubah, sehingga perubahan ini berpotensi terhadap biaya dan konsekuensi lain; (3) Informasi penting perusahaan disimpan dalam legacy system sementara informasi itu tidak disimpan ditempat lain; (4) Implementasi TI yang baru memiliki resiko kegagalan yang bisa terjadi diluar perkiraan; (5) Sistem keamanan dalam proses integrasi tidak bisa dijaga dengan baik (Chowdhury et al., 2004; Ernest et al., 2007).
Secara umum, karakteristik dari legacy system adalah; maintenance biaya tinggi, struktur yang kompleks, ketinggalan zaman, tidak memiliki tenaga ahli, beresiko terhadap bisnis, diperlukan perubahan setiap saat, sulit dikenali, sulit dipahami (Chowdhury et al., 2004; Ulrich, 2002).

Budaya kerja perusahaan
Kesuksesan implementasi TI juga sangat ditentukan oleh dukungan penuh dari perusahaan (Bryson, 2006). Dukungan sangat dipengaruhi oleh budaya kerja. Baik perusahaan besar maupun UKM, budaya kerja sulit dikenali oleh orang luar, dan demikian pula halnya oleh karyawan (McDermott et al., 2001). Meskipun perusahaan memiliki peraturan kerja, dalam praktek, implementasinya akan sangat dipengaruhi oleh budaya kerja. Budaya kerja seperti penolakan, gosip, tidak mau tahu (apriori), menyalahkan, tidak bisa dihindari dilingkungan kerja. Hal yang sama juga terjadi didalam implementasi TI (De Long, 2000). Diantara budaya kerja perusahaan yang harus dihadapi dalam implementasi TI adalah; kurangnya pemahaman terhadap pentingnya TI; penolakan tanpa didasarkan kepada pengetahuan; tidak mau bekerjasama dengan berbagai alasan; kecurigaan dan ketidak-percayaan (World Bank, 2006).

Kolaborasi dengan partner atau vendor
Diantara alasan utama memilih berkolaborasi dengan vendor dalam implementasi TI adalah karena biaya yang akan ditanggung perusahaan lebih murah, dikerjakan oleh tenaga ahli profesional, teknologi yang digunakan lebih advance, waktu yang tersedia sangat sempit, sumber daya yang dimiliki perusahaan terbatas (Yourdon, 2004; Warne, 2003), atau karena perusahaan ingin lebih fokus kepada bisnis utamanya (Meyer, 2006).
Meskipun kolaborasi menawarkan berbagai keuntungan, tidak hati-hati dan tidak teliti dalam berkolaborasi, justru akan berakibat buruk kepada perusahaan.
Diantara akibat buruk yang ditimbulkan oleh kolaborasi adalah; akibat kesalahan vendor, biaya implementasi menjadi lebih mahal; ketergantungan kepada vendor mengakibatkan perusahaan kehilangan kontrol; kualitas implementasi yang buruk membuat citra perusahaan menjadi negatif dimata karyawan, supplier, pelanggan; kesulitan dalam memenej hubungan dengan vendor; masalah kepercayaan, misalnya vendor membeberkan rahasia perusahaan kepada kompetitor (Schniederjans, 2005). Disamping kolaborasi memberikan nilai positif dan negatif, isu lainnya yang perlu didiskusikan adalah terkait dengan sistem keamanan, updating, serta maintenance yang ditawarkan vendor (SITF, 2006; Khosrowpour, 2002).
Keputusan perusahaan untuk melakukan kolaborasi, harus didasarkan kepada pertimbangan yang matang. Agar terhindar dari efek negatif kolaborasi, perusahaan hendaknya melakukan proses pemilihan vendor secara teliti. SITF memiliki konsep cara pemilihan vendor, yaitu dimulai dengan proses seleksi (tender), kemudian vendor yang memenangkan tender harus di menej dan diikat dengan perjanjian (SITF, 2006).
Meskipun terdapat berbagai usaha untuk mengikat vendor, sebagian perusahaan masih tetap memiliki keraguan untuk berkolaborasi dengan vendor. Keraguan yang paling dominan adalah masalah kepercayaan dan keamanan (security and Trust) (Dooly et al., 2007).

Interaksi dengan klien
Interaksi dengan klien (supplier dan pelanggan) sangat penting dilakukan agar perusahaan tetap bisa kompetitif. Untuk itu, perusahaan dituntut untuk terus berupaya memenuhi ekspektasi supplier dan pelanggan (Ho et al., 2003). Interaksi perusahaan dengan klien akan semakin baik apabila perusahaan bisa memberikan pelayanan melebihi ekspektasi klien (Williams, 2004). IT berperan sebagai alat pendukung untuk berinteraksinya perusahaan dengan klien, seperti terintegrasinya TI kedalam sistem penjualan, produksi, operasi internal dan dalam pemgambilan keputusan. Contoh lain adalah terintegrasinya customer relationship management (CRM) system. Oleh karena itu, konsep implementasi TI haruslah mudah, aman dan nyaman dalam penggunaan (Cunningham, 2003), baik penggunaan oleh perusahaan maupun klien. Mudah dalam arti, sistem TI tidak kompleks sehingga membingungkan. Aman dalam arti komunikasi dan transaksi antara perusahaan dengan klien terjaga. Nyaman dalam arti privacy pelanggan terpelihara. Karena itu, implementasi TI pada UKM harus pula melihat proses interaksi dengan klien, sehingga TI yang diimplementasikan bisa memberikan hasil positif kepada perusahaan dan ekspektasi klien juga bisa terpenuhi oleh perusahaan.

6. REKOMENDASI
Untuk mendapat sebuah model final, ia sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang terlibat didalam sebuah UKM. Ketika melakukan implementasi TI pada UKM, sangat direkomendasikan untuk memperhatikan faktor-faktor dan tantangan yang terlibat didalam implementasi.

7. KESIMPULAN
Model sangat berpengaruh terhadap hasil implementasi. Karena itu, perumusan model sangat diperlukan. Didalam merumuskan sebuah model, terdapat faktor-faktor yang memainkan peranan yang harus dipertimbangkan.

Daftar Pustaka
[1]. ASTA, “10 Steps to the Successful Implementation of a Project Portfolio Management Solution”, ASTA, 2007. http://www.teamplan.co.uk
[2]. Boisvert, Hugues, “The use of Internet in SME. Its impact on business processes”, HEC-Montreal, CMA International Centre, Canada, 2006.
[3]. Bryson, Jo, “Managing Information Services: A Transformational Approach”, Ashgate Publishing, UK, 2006.
[4]. Brett, Tony, “ICT Security issues in Europe”, Oxford University, 2003. http://users.ox.ac.uk/~tony/
[5]. Brett, Tony, “Data Protection and Freedom of Information Acts”, Oxford University, 2005. http://users.ox.ac.uk/~tony/
[6]. Boekhoudt, Piet and Petra van der Stappen, " The ASPect Project Case: a Model for SME Adoption of ICT Innovation", Association for Computing Machinery (ACM), 2004
[7]. Choudhury, Amit, “Most Singapore IT Projects Fail to Achieve Outcome”, The Business Times, Singapore, 16 July 2007.
[8]. Chowdhury, Maria Wahid and Muhammad Zafar Iqbal, “Integration of Legacy Systems in Software Architecture”, School of Electrical Engineering and Computer Science, University of Central Florida, 2004. www.cs.ucf.edu/~leavens/SAVCBS/2004/posters/Chowhury-Iqbal.pdf
[9]. Cunningham, Miriam, “Building the Knowledge Economy: Issues, Applications, Case Studies”, IOS Press, Netherlands, 2003
[10]. De Long, D. W., and Fahey, L., “Diagnosing cultural barriers to knowledge management”, The Academy of management executive 14, 2001.
[11]. Ernest, Terry and Jones, “Managing IT Business Risk; Safeguarding The Organisation From IT Failure”, Mercury and The Economic Intelligent Unit (EIU), 2007
[12]. Europa Commission, “The new SME definition: User guide and model declaration”, Enterprise and
Industry Publications, EC, 2003
[13]. Daniel, April, “Classifying Information and Communication Technology (ICT) Services”, OECD, 2007
[14]. Doucet, Joseph, “Project Management: Challenges & Lessons Learned”, University of Texas, United States of America, Feb 2007. http://www.beg.utexas.edu/energyecon/ua_2007/AB_Project_Mgt_challenges.pdf
[15]. Ho, Teck H. and Yu-Sheng Zheng, “Setting Customer Expectation in Service Delivery: An Integrated Marketing-Operations Perspective”, University of California, Berkeley, 2003
[16]. Hewlett Packard, “HP Project and Portfolio Management (PPM) Resource Management Module”, HP Singapore, 2007
[17]. Hustadt, Ullrich, ” Data Structures and Information Systems”, University of Liverpool, 2008. http://www.csc.liv.ac.uk/~ullrich/COMP102/notes/lect27.pdf
[18]. IPS, “Managing the Project Portfolio”, IPS Associates Asia Pte Ltd, Singapore, 2007.
[19]. Kerr, Door Paul, “Goal Setting Garbage”, Instituut voor Eclectische Psychologie, 2006. http://www.iepdoc.nl/biblio/artikel_detail_hell.asp?ID=149
[20]. Khosrowpour, Mehdi, “Issues and Trends of Information Technology Management in Contemporary”, Idea Group Inc (IGI), USA, 2002.
[21]. Kotelnikov, Vadim, “Small and Medium Enterprises and ICT”, Asia-Pacific Development Information Programme-UNDP, 2007
[22]. Kusmuljono, B.S., “UMKM & Prospek Ekonomi 2006”, Dialog Ekonomi 2005 & Prospek Ekonomi Indonesia Tahun 2006, Kamar Dagang & Industri Indonesia, 20 Desember 2005
[23]. McDermott, R. and O’Dell, C., “Overcoming cultural barriers to sharing knowledge”, Journal of knowledge management, 2001.
[24]. Matthews, Paul, “ICT Assimilation and SME Expansion”, Overseas Development Institute, London, 2007
[25]. Meyer , David, “Sony Europe is outsourcing several of its core IT development functions to India-based Satyam Computer Services”, CNet News.com, 2006. http://www.news.com/Sony+outsources+IT+development+to+India/2100-1012_3-6142005.html
[26]. Moodley, S., “E-Business in the South African Apparel Sector: a Utopian Vision of Efficiency?”, The Developing Economics, 2002
[27]. OECD, “ICT, E-Business and SMEs”, Organisation For Economic Co-Operation And Development, 2004.
[28]. OECD, “Information Technology Outlook 2002”, OECD, Paris, 2002.
[29]. Parnas, David L. and Paul C. Clements, “A Rational Design Process: How And Why To Fake It”, Computer
Science Department, University of Victoria, Canada, 2006
[30]. Qiang, C. Z., Clarke, G. R., and Halewood, N., “The Role of ICT in Doing Business' Information and Communications for Development - Global Trends and Policies”, Washington DC: World Bank, 2006.
[31]. Raymond, L., Bergeron, F., and Blili, S., “The Assimilation of E-business in Manufacturing SMEs: Determinants and Effects on Growth and Internationalization”, Electronic Markets 15 (2), 2005.
[32]. Schniederjans, Marc J., “Outsourcing And Insourcing in an International Context”, M.E. Sharpe, NY, 2005.
[33]. Skordas, Thomas, “Trust, Security and Dependability
in Service Oriented Infrastructures, 2nd ESFORS Workshop, Maribor, 2007
[34]. Standish Group, “The Chaos Report 1995”, The Standish Group International, Inc., United States, 1995
[35]. Sukandar, Sidik, Kontribusi UKM terhadap PDB Capai 53,3%, Media Indonesia Online, 2007. www.mediaindonesia.com
[36]. Ugwu, Onuegbu O, Mohan M Kumaraswamy, Critical Success Factors for Construction ICT Projects-Some Empirical Evidence and Lessons for Emerging Economies, ITCon Vol. 12, 2007. http://itcon.org/2007/16/
[37]. Ugwu Onuegbu O, Ng S. T, Mohan M Kumaraswamy, “Key Enablers in IT Implementation-A Hong Kong Construction Industry Perspective”, 4th Joint International Symposium on Information Technology in Civil Engineering (Flood I, Ed.), Nashville, Tennessee USA, 15-16 November 2003.
[38]. Ulrich, William, “Legacy Systems: Transformation Strategies”, Prentice Hall, USA, 2002
[39]. Usoro, Abel, “Attitude as a Factor for the Use of Information and Communication Technology for Global Planning”, Computing and Information Systems, University of Paisley, 2000.
[40]. Warne, Thomas R., “State Dot Outsourcing and Private-Sector Utilization”, Transportation Research Board, US, 2003.
[41]. “What is ICT”, Bishop Wordsworth's School, 2008. http://www.bws.wilts.sch.uk/curriculum/departments/ict/ict.htm
[42]. Whittaker, Brenda, “What Went Wrong? Unsuccessful Information Technology Projects”, MCB University Press, 1999
[43]. “Wider Outreach for Software Market, Says Rafidah”, Bernama The Malaysian National News Agency, 9 May 2005.
[44]. Williams, John A., “Current Issues and Development in Hospitality and Tourism Satisfaction”, Haworth Press, USA, 2004.
[45]. Wikipedia, “Spiral model”, accessed 17 March 2008. http://en.wikipedia.org/wiki/Spiral_model
[46]. Wikipedia (2), “Business process”, accessed 19 March 2008. http://en.wikipedia.org/wiki/Business_process
[47]. World Bank, “Information and Communications for Development: Global Trends and Policies”, The World Bank, 2006
[48]. Yourdon, Edward, “Outsource: Competing in the Global Productivity Race”, Prentice Hall, US, 2004
Read More »

STUDI KASUS E-COMMERCE PORTAL
MEMBUAT WEB SERVICE DENGAN MENGGUNAKAN JAVA

MEMBUAT WEB SERVICE DENGAN MENGGUNAKAN JAVA
(STUDI KASUS ECOMMERCE PORTAL)

ABSTRAK
Web Service merupakan fenomena yang sangat panas saat ini karena, banyak kelebihan yang ditawarkan dan dapat diakses kapanpun serta dimanapun selama mesin kita terhubung oleh jaringan internet atau intranet. Web service juga dapat diakses oleh aplikasi yang lain.

PENDAHULUAN
Secara umum, pertukaran data adalah hal yang banyak menjadi topik pada kasus internet. Sesuai perkembangan teknologi, pertukaran itu juga dapat dilakukan pada level service. Beberapa tahun belakangan ini, kita mungkin melihat kemajuan bidang teknologi internet. Salah satunya adalah penggunaan web service.


Blog Ahmad Ridha Sedang Memuat PDF...... ^^v

Read More »

Studi Kasus PT PLN (Persero)
Pengaruh Teknologi Dalam Organisasi


Jika keefektifan organisasi di ukur dari pencapaian tujuannya, sistem yang digunakan,  kepuasan para kontituensinya dan kemampuan untuk bersaing, lalu dimanakah letak peranan teknologi dalam mewujudkan keefektifan sebuah organisasi?

Lalu apa sebenarnya teknologi itu?
Anggapan banyak orang, teknologi identik dengan sesuatu yang canggih seperti peralatan yang modern, computer, laptop, robot dsb. Padahal sebenarnya yang teknologi itu luas sekali. Dalam bukunya yang berjudul “Teori Organisasi, struktur, desain & aplikasi”, Robbin mengatakan bahwa teknologi adalah merujuk pada informasi, peralatan, tehnik dan proses yang dibutuhkan untuk mengubah masukan menjadi keluaran[1]. Jadi tidak hanya peralatan yang disebutkan diatas, tapi juga berupa tehnik atau informasi.
Dan bagaimana peranan teknologi dalam organisasi?
Untuk membahas hal ini, makalah ini akan membahas studi kasus tentang PT PLN (persero). Melihat lebih dalam bagaimana teknologi merubah tatanan organisasi di tubuh PLN.
Pada bulan Desember 2009, PLN, Perusahaan Listrik Negara, dipimpin oleh Direktur Utama baru. Dahlan Iskan, CEO Jawapos Group, perusahaan media terbesar di Indonesia, dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menahkodai PLN. 
 


Keadaan PLN Sebelum Dahlan Iskan Menjabat Sebagai Direktur Utama
Sebelum Dahlan Iskan menjabat sebagai direktur utama, ada berbagai fakta yang membuat PLN sebagai perusahaan pengelolaan listrik berjalan dengan tidak efektif dan cenderung tidak masuk akal.
  1. Negara Indonesia potensial energi listrik, tetapi mengalami krisis listrik.
  2. PLN bersedia membeli li­strik seharga Rp 1.050/KWh dari Malaysia, padahal ada pembangkit swasta nasional yang menawarkan Rp 600/KWh
  3. PLN tidak bisa mendapatkan gas hingga puluhan tahun. Perusahaan ini memiliki banyak pembangkit berbahan bakar gas, yang berkapasitas besar dan kualitas kelas satu, tetapi justru menggunakan solar yang biayanya bisa membengkak tiga kali lipat.
  4. Di Kalimantan Timur yang kaya batu bara, pembangkit listriknya malah berbahan bakar solar. Kalau dilihat dari kekayaan alam Indonesia, keadaan ini menjadi sungguh ironis, negara kita ekspor batu bara besar-besaran, tetapi juga impor solar habis-habisan.
  5. Saat ini kebutuhan gas PLN kurang dari 1 juta million metric British thermal units (MMBtu). Jika itu terpenuhi, bisa berhemat Rp 15 triliun per tahun. Ujung-ujungnya, jika gas terpenuhi, dapat mengurangi subsidi pemerintah.
  6. Sampai tahun 2015, PLN dihadapkan pada dua tantangan.
    1. Pertama, untuk jangka pendek (1-2 tahun ke depan) listriknya harus nyala dulu agar tidak byar-pet lagi. Untuk itu, PLN menyewa generator dengan biaya sangat mahal. Meski tidak efisien, hal itu harus dilakukan mengingat status­nya adalah Public Service Obligation (PSO), sehingga bagaimanapun ada proses politik yang terkait di BUMN itu.
    2. Kedua, rencana jangka panjang: harus bisa membangun dan melakukan efisiensi. Tahun 2015 harus bisa rnembangun dan menambah pasokan listrik 20 ribu MW. Untuk itu, dibutuhkan dana sekitar Rp 800 triliun.
  7. Dilihat dari kinerja secara financial, 2 tahun berturut-turu yaitu pada tahun 2007 dan 2008 PLN masih mengalami kerugian
Tabel 1. Pendapatan laba(rugi) bersih PT PLN (persero)
Pendapatan dan Laba (Rugi) Bersih PT.PLN (Persero)
Tahun
2007
2008
2009*
Jumlah pendapatan usaha (Rp juta)
114.042.687
164.208.510
106.244.646
Laba (Rugi) bersih (Rp juta)
(5.645.107)
(12.303.716)
8.346.889


Sumber: Laporan Keuangan PT PLN (Persero)
*Keterangan: sampai dengan Q3
Dilihat dari fakta yang terdapat diatas, PLN terlihat sebagai organisasi yang tidak effisien. Dari segi pencapaian tujuan, PLN masih merugi pada tahun 2007 dan 2008. Baru di tahun 2009 kinerja keuangan menunjukkan hasil yang positif. Dari sistem kerja yang digunakan saat ini, PLN masih dinilai memboroskan uang negara sebesar 15 Triliun setahun. Dari sisi konstituensi strategis, PLN belum memuaskan pelanggannya yang menginginkan listrik tidak mati karena kurangnya pasokan listrik.
Lalu Teknologi yang digunakan oleh Dahlan Iskan ?
Pada minggu per­tama menjabat, ia sudah merealisasi program jangka pendek. Yaitu, mengganti sumber energi primer dan menyediakan trafo cadangan untuk keperluan distribusi listrik. Penggantian energi primer ini diklaimnya bisa menghemat beban subsidi sebesar Rp 5 triliun tiap tahun.
Langkah awal yang dilakukan untuk meng­ganti sumber energi primer adalah: meneken kontrak pembelian gas dari Perusahaan Gas Negara. Dengan pembelian gas ini, pasokan gas sebesar 8 billion British thermal unit per hari disalurkan untuk pembangkit tenaga uap di Talang Duku, Sumatera Selatan. Untuk pem­bangkit Utara disalurkan 150 MMBtu.
Langkah kedua, yaitu membangun 100 unit pem­bangkit tenaga uap kecil untuk menggantikan mesin diesel yang selama ini digunakan di luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.
Langkah ketiga, yaitu menyediakan 12 unit trafo cadangan berkapasitas 500 KA buat sejumlah gardu di Jawa, Madura dan Bali. Trafo cadangan ini pen­ting guna mengantisipasi terjadinya gangguan pasokan listrik ketika gardu induk rusak.
Langkah keempat, Untuk penanganan Indonesia Timur hal yang dilakukan adalah, Pertama, mengganti diesel dengan pembangkit listrik kecil berjumlah 70 unit. Kedua, mengadakan pembangkit listrik tenaga matahari besar-be­saran. Ketiga, membangun pembangkit mikro hidro besar-besaran di Sulawesi dan Papua.
Tidak hanya masalah teknis yang dibenahi, tetapi juga birokrasi. Yaitu, dengan memang­kas jalur pengambilan keputusan. Di sistem Iama PLN, suatu keputusan harus diputuskan di rapat direksi, kemudian dibuat naskah keputusan, lalu di­tandatangani seluruh direktur. Akibatnya, ada keputusan yang umurnya sudah setahun, tetapi barn diteken.
Akhirnya, Dahlan mengubah sistem itu lebih pendek birokrasinya. Dibentuk sekitar 6 komite, antara lain Komite SDM, Komite Investasi atau Komite Transmisi. Komite investasi hanya melibatkan ketua komite, direktur keuangan, direktur bisnis dan manaje­men risiko, direktur perencanaan dan direktur operasional.
Kalau komite sudah memutuskan, itu adalah keputusan direksi. Kini praktis 2-3 kali rapat sudah kelar, bahkan ada yang sekali rapat.
Setelah birokrasi, Dahlan pun membenahi struktur organisasi. Dulu di bawah direktur terdapat deputi direktur. Otomatis jabatannya adalah wakil direktur. Posisi ini ditiadakan, diganti menjadi kepala divisi.
Gambar 1. Struktur organisasi PLN

Guna mengontrol pencapaian target pro­gram atau kinerja PLN, Dahlan membentuk lembaga semacam Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang dibentuk mirip ketika Kun­turo menjabat sebagai dirut. Jadi, ada satu kepala divisi yang ditugaskan khusus untuk melakukan monitoring target. Misalnya, ditugaskan memantau kemajuan program listrik prabayar, revolusi di Sumatera Utara, dan sebagainya.
Untuk membenahi PLN, Dahlan pun berupaya menanamkan sense of crisis tahun 1998 sebagaimana di Jawa Pos. Saat di kantor media itu, jika kacamatanya patah, ia hanya mengikatnya dengan karet. Lalu, ada juga karyawan yang memintanya tidak naik Mercy lagi, akhirnya ia hanya naik Hyundai kecil. Untuk mengubah mindset karyawan PLN. Dulu terdapat lift khusus dirut, tapi sekarang lift itu boleh digunakan untuk siapa saja
Sebagai pemimpin, Dahlan berusaha memberikan contoh nyata bagi bawahannya. Misalnya, ia disiplin bcrangkat pagi dan pukul 6.45 WIB sudah berada di kantor. Rapat direksi pun diubah menjadi puku17.00 WIB.
Kehadiran Dahlan sejak awal memang ditentang karyawan. Bagaimana menga­tasi resistensi itu? Dahlan iskan hanya mendiamkan saja, karena Dia berpikir karyawan kan belum tahu saya lebih jauh.
Hasil yang dicapai dari perubahan teknologi
Pemadaman listrik di beberapa tempat berkurang. Misalnya di Medan, sejak awal Maret sudah tidak ada mati listrik. Listrik di Karimun dan Tanjung Pinang juga tidak mati lagi sejak pertengahan Maret. Di Makassar dan Manado, tidak mati lampu terhitung akhir Maret. Pendeknya, tiap minggu ditargetkan ada peningkatan daerah-daerah yang bebas byar-pet. Jika pemerintah menargetkan crash program mengatasi pemadaman pada Oktober 2010, Dahlan berani mencapai target lebih cepat, yaitu Juni 2010.
Karyawan pun mengakui kehebatan Dah­lan. "Visi dan budaya kerja PLN menjadi world class service diperluas dari tadinya Jakarta saja kini hingga area jawa-Bali," ungkap Tri Budi Darmawan, Deputi Manajer Perencanaan Kantor Distribusi Gambir. Budi memuji kini bosnya lebih egaliter karena mau turun ke bawah. "Kami diberi contoh langsung mental melayani," [2]
Kesimpulan
Untuk mengubah kinerja organisasi memang diperlukan teknologi baru. Seperti yang dilakukan Dahlan Iskan di PLN. Dia menggunakan teknologi terbaru untuk mengganti kerja pembangkit, juga teknologi untuk memperpendek jalur birokrasi. Struktur organisasipun ikut berubah dengan adanya teknologi yang dibawa Dahlan Iskan.
Tidak hanya itu, Dahlan Iskan juga membawa teknologi dalam bentuk manajemen manusia untuk mendekatkan diri dengan karyawan PLN. Juga mampu mempersatukan dan memotivasi karyawan PLN untuk menjadi world class quality.
Jadi, teknologi yang tepat akan membuat kinerja suatu organisasi menjadi lebih efektif.


Sumber : Prasetyo
Read More »

Fitoremediasi Petroleum Hidrokarbon

STUDI KASUS FITOREMEDIASI PETROLEUM HIDROKARBON


Latar Belakang
Petroleum Hidrokarbon (PHK) à bahan kimia alami, banyak digunakan oleh manusia utk berbagai keperluan (misal: kendaraan, industri, rumah tangga).


PHK:
Contoh: gas alam, minyak mentah, tar, aspal
Komposisi:
Alkana      Ã  metana, etana, propana
Aromatik à benzen, toluen, etilbenzen, silen (disebut sebagai BTEX)
PAH         Ã  naftalen, fenantren, antracen, benzo-a-piren


Industrialisasi à meningkatkan jumlah industri petrokimia à meningkatnya jumlah pencemaran senyawa PHK atau limbahnya, contoh: kawasan Saskatchewan (Kanada) à ratusan tempat tercemar PHK (Carlson, 1998)


Tujuan
Mengevaluasi efektifitas fitoremediasi, utamanya pada ekosistem tanah dan air-tanah yang tercemar PHK, misalnya daerah dekat saluran pembuangan/perpipaan, sumur-sumur pemboran, dan sejenisnya

Tinjauan Pustaka
Berbagai macam tanaman telah diketahui memiliki potensi digunakan sbg fitoremediasi utk senyawa PHK (Tabel 1).
                                                                        
Kelompok tanaman spt rumput-rumputan dan kacang-kacangan (legumes) berpotensi sangat besar dibanding tanaman lainnya. Rerumputan di padang rumput yang paling tinggi kemampuan sbg fitoremediasi karena sistem perakarannya yang sangat banyak, kuat, dan menyebar dlm tanah.

Sistem perakaran rumput mempunyai luas permukaan maksimum (per m3 tanah) drpd tanaman lainnya serta mampu menembus ke dlm tanah sampai 3 m (Aprill dan Sims, 1990). Selain itu keragaman genetiknya tinggi, shg memberi keunggulan dlm hal daya tahan di tanah yg kurang menguntungkan.

Kelompok kacang-kacangan memiliki kelebihan dibanding non-legumes krn kemampuan menambat N2 dari udara, shg tanaman ini tdk perlu berkompetisi dg mikrobia tanah dan tanaman lain utk memperoleh N2 yang jumlahnya berkurang akibat pencemaran oleh PHK (Gudin dan Syratt, 1975).

Aprill dan Sims (1990) menggunakankan campuran 8 jenis rumput yang ditumbuhkan di tanah berpasir utk mendegradasi 4 macam PAH (benzo-a-piren, benzo-a-antrasen, dibenzo-a,h-antrasen, dan krisen). Hasil: PAH terdegradasi pada kawasan yg ditanami 8 jenis rumput drpd kontrol (tidak ditanami rumput). Simpulan: fitoremediasi meningkatkan berkurangnya PAH dlm tanah. Urutan PAH yang terdegradasi sbb: benzo-a-antrasen > krisen > benzo-a-piren > benzo-a,h-antrasen.

Catatan: urutan tsb memperlihatkan tingkat kelarutan macam PAH terhadap air à semakin mudah larut dlm air, semakin cepat berkurang dlm tanah.
Qiu dkk (1997) menggunakan 12 jenis rumput kerbau (buffalograss) utk mendegradasi naftalen pada tanah lempung. Peneliti memilih 12 jenis rumput kerbau utk mendegradasi PAH. Hasil: rumput kerbau mempercepat hilangnya PAH dengan berat molekul rendah spt naftalen, floren, dan, fenantren dibanding kontrol. Hanya 1 jenis rumput (Verde kleingrass) mampu mempercepat hilangnya PAH dengan molekul besar spt piren, benzo-a-antrasen, dan benzo-a-piren dibanding kontrol.

Gunther dkk (1996) mendapatkan bahwa tanah tercemar yg ditanami rumput ryegrass memperlihatkan kehilangan paling besar senyawa HK, spt n-alkana (C10, C14, C18, C22, dan C24), pristana, heksadekana, fenantren, antrasen, floranten, dan piren. Setelah 22 minggu konsentrasi senyawa HK awal sebesar 4330 mg per kg tanah berkurang menjadi 120 mg/kg tanah (berkurang sebesar 97%), tapi hanya 82% pada kontrol.

Reilley dkk (1996) menunjukkan rumput dan legume dapat meningkatkan hilangnya PAH pada tanah tercemar. Para peneliti menggunakan legume (Alfalfa) dan 3 jenis rumput secara terpisah. Macam PAH: piren dan antrasen. Hasil: tanah yang ditanami lebih baik (30-40% lebih tinggi) drpd tanah yg tidak ditanami. Mekanisme utama yg terlibat: degradasi PAH tjd pd rizosfer melalui disipasi, sedang perembesan, absorbsi oleh tanaman, degradasi abiotik, mineralisasi, dan penyerapan tak-balik (irreversible sorption) tidak signifikan.


Dasar Teori
Mekanisme fitoremediasi à 3 macam: degradasi, penyerapan, dan pemindahan (transfer HK dari tanah ke udara).

a.  Degradasi
Peran tanaman thd degradasi senyawa HK dpt langsung maupun tidak langsung menjadi produk spt alkohol, asam, CO2, dan H2O). Produk tsb kurang berbahaya dan tidak tahan lama di lingkungan (Eweis dkk, 1998).
a.1. Efek Rizosfer (ER)
Rizosfer: daerah pd tanah yg paling dekat dg akar tanaman, shg ada di bawah pengaruh sistem perakaran. Tanaman menyediakan cairan (eksudat) akar yg terdiri dr karbon, enerji, nutrien, enzim dan kadang O2 bg mikrobia tanah. Cairan akar berupa alkohol, gula, dan asam (yg merupakan 10-20% hasil fotosintesis tanaman) memasok enerji dan karbon yg cukup bagi sebesar 108-109 sel mikrobia per gram tanah pd rizosfer (Erickson dkk, 1995). Adanya cairan akar ini maka populasi mikrobia menjadi 5-100 kali lebih banyak drpd di bagian tanah lainnya (Gambar 1). Meningkatnya jumlah populasi mikrobia inilah yg dikenal sbg Efek Rizosfer (ER) (Atlas dan Bartha, 1998).

Gunther dkk (1996) mendapatkan tingginya jumlah dan aktivitas mikrobia tanah seiring dg tingginya degradasi senyawa HK pd tanah yg ditanami ryegrass. Para peneliti menduga perakaran rumput menstimulasi mikrobia, yg kmd meningkatkan tjd degradasi campuran senyawa HK.

Radwan dkk (1998) mengidentifikasi sistem perakaran bbrp tanaman dr gurun Kuwait spt Senecio glaucus, Cyperus conglomeratus, Launaea mucronata, Picris babylonia, dan Salsola imbricata serta tumbuhan budidaya spt Vicia faba dan Lupinus albus yg sangat banyak dijumpai bakteri pengguna HK yaitu Cellulomonas flavigena, Rhodococcus erythropolis, dan Arthrobacter sp.


a.2. Degradasi Langsung dan Tidak Langsung
Bukti degradasi langsung masih belum banyak diketahui.
Durmishidze (1977) melakukan beberapa studi kasus di Soviet yg memperlihatkan kecambah jagung, teh, dan batang poplar dapat memetabolisme metana menjadi berbagai macam asam. Bukti tsb ditunjukkan dg metode radiasi (radiolabel) pd senyawa-senyawa spt metana, etana, propana, butana, dan pentana yg dihasilkan oleh kecambah kacang, kecambah jagung, teh, anggur, walnut, dan quince.
Kemampuan mengasimilasi n-alkana dan membebaskan 14CO2 dpt diketahui lewat daun dan akar, baik dr seluruh biomasa tanaman atau bagian tubuh tanaman.

Jalur umum konversi alkana dlm tubuh tanaman sbb:
n-alkanan à alkohol primer à asam lemak à asetil-CoA à macam-macam senyawa

Durmishidze (1977) juga melaporkan bahwa benzen, toluen, dan silen dpt dimetabolisme oleh rumput penghasil biji dlm waktu hanya 2-3 hari, oleh jagung dlm waktu 4-5 hari, oleh tanaman keras (root crops) dlm waktu 5-6 hari. Fenol merupakan produk akhir asimilasi benzen. Produk utama pemecahan toluen adalah glikol serta glioksalat, fumarat, suksinat, dan asam malat. Benzo-a-piren dpt dimetabolisme selama 14 hari oleh jagung dan kacang, alfalfa, ryegrass, mentimun, labu, rumput anggrek (orchard grass) dan vetch dg tingkat degradasi sebesar 2-18%.

Edwards (1988) mencatat bahwa metabolisme [14C]antrasen dan [14C]benz-a-antrasen oleh kacang tanah (bush bean). Dalam tubuh tanaman senyawa induk diubah menjadi metabolit polar dan non-polar. Hal yg menarik: metabolit yg polar dlm jumlah cukup besar diubah menjadi larutan nutrien dan dikeluarkan sbg cairan akar (eksudat).


Bukti degradasi tidak langsung lebih banyak dijumpai pd tanaman, khususnya dlm mendegradasi senyawa PHK. Bukti-bukti tsb antara lain meliputi:
i)                        pasokan cairan akar utk meningkatkan ER dan degradasi kometabolisme,
ii)                      pelepasan enzim perakaran (root-associated enzymes) yang mampu mengubah senyawa pencemar organik, dan
iii)                     efek fisika dan kimia sistem perakaran thd keadaan tanah.

     
b.           Penyerapan
Penyerapan berarti juga mengurangi dan menghilangkan tingkat bioavailabilitas senyawa pencemar. Senyawa pencemar tidak harus mengalami degradasi saat di serap tanaman. Mekanisme langsung penyerapan meliputi akumulasi PHK ke dalam tubuh tanaman, penempelan (adsorpsi) senyawa pencemar pd permukaan akar (Gambar). Secara tidak langsung tanaman menghasilkan enzim yg berikatan dg senyawa pencemar, yg kmd menjadi bahan organik (misal humus).


b.1. Akumulasi Senyawa PHK
Para peneliti telah mendapati bahwa kandungan lemak dlm tanaman sangat berpengaruh thd tingkat akumulasi senyawa PHK.

Edwards (1983) melaporkan bahwa konsentrasi PAH lebih tinggi, khususnya benzo-a-piren, dpt diekstraksi dr tanaman. Schwab dkk (1998) menemukan bahwa sistem perakaran alfalfa menyerap naftalen lebih tinggi drpada fescue (Festuca arundinacea), krn akar alfalfa memiliki afinitas thd naftalen 2 kali lebih besar drpd akar fescue. Perbedaan afinitas ini berkaitan dengan kandungan lemak dlm alfalfa (10 g lemak/kg berat kering akar) sedang fescue 4,5 g/kg.

Simonich dan Hites (1994) melaporkan pinus putih (Pinus strobus) dan sugar maple (Acer saccarum) mengakumulasi PAH dlm jaringan tubuh di atas tanah. Mereka juga mendapatkan jaringan tubuh tanaman dengan kandungan lemak lebih tinggi (dedaunan pinus putih) umumnya mengandung konsentrasi PAH lebih tinggi drpd jaringan tubuh yg rendah kadar lemaknya (daun dan biji sugar maple).

Penelitian tentang model akumulasi senyawa pencemar oleh tanaman juga telah banyak dilakukan. Contoh: model koefisien partisi oktanol-air (water-octanol partititon) (Kow atau log Kow) yg merupakan pengukuran afinitas senyawa kimia thd air dibanding lemak (Mackay, 1991).
Scr umum, senyawa kimia yg mudah larut dlm air (senyawa hidrofilik, log Kow <0,5) tidak mudah terserap dlm akar atau scr aktif mampu melewati membran tanaman (Schnoor dkk, 1995). 

Senyawa hidrofobik (log Kow > 3,0) tidak mudah utk dipindahkan dlm tubuh tanaman, krn senyawa ini kuat terikat dan bahkan mungkin tdk dapat melewati permukaan akar akibat tinggnya lemak di permukaan akar (Siciliano dan Germida, 1998).

Sedang kelompok hidrofobik moderat (log Kow= 0,5 – 3,0) efektif diserap tanaman.

Contoh senyawa hidrofobik moderat antara lain BTEX, senyawa yg mengandung klor, dan senyawa alifatik rantai pendek.  

Model penelitian lain yg dikembangkan adalah ukuran dan berat molekul senyawa organik pencemar. Anderson dkk (1993) melaporkan penyerapan oleh akar tanaman biasanya lebih menyukai molekul dengan ukuran kecil dan berat molekul lebih ringan, sedang molekul lebih besar cenderung utk dijauhkan dr akar.


b.2. Tanaman sebagai Pompa Organik
Tanaman menguapkan sejumlah air melalui daun (transpirasi) shg mencegah tjdnya perpindahan senyawa kimia terlarut ke arah bawah. Cara semacam ini membuat tanaman berperan sbg pompa organik yg mampu mencegah baik senyawa induk maupun produk degradasinya terlarut dlm air sehingga menyebar atau merembes ke luar dr daerah perakaran. Kemampuan memompa ke arah atas ini diduga banyak tjd di kawasan semi-kering sampai kawasan kering manakala evapotranspirasi lebih besar drpd presipitasi (hujan).
c.  Pemindahan PHK ke Atmosfer (Fitovolatilisasi)
Wiltse dkk (1998) mengamati terjadinya kebakaran daun pd tanaman alfalfa yg ditumbuhkan pd tanah tercemar minyak mentah. Para peneliti tsb menduga senyawa tak teridentifikasi yg berasal dr dalam tanah tercemar dipindahkan melalui  tubuh tumbuhan dan kmd mengalami tranpirasi (penguapan).

Watkins dkk (1994) mendapatkan bahwa volatilisasi senyawa [14C]naftalen semakin meningkat pd  tanah tercemar yg ditanami rumput jenis Bell rhodesgrass. Hasil studi ini menunjukkan bahwa naftalen yang diserap oleh akar rumput kmd masuk ke dlm jaringan tubuh rumput, dan akhirnya mengalami transpirasi.


Pengaruh Faktor Lingkungan thd Fitoremediasi
1.  Struktur dan tekstur tanah, kandungan bahan organik tanah
2.  Ketersediaan air dan oksigen
3.  Suhu
4.  Nutrien
5.  Cahaya matahari
6.  Iklim/cuaca


Pertimbangan Khusus Penerapan Fitoremediasi
1. Pengembangan tanaman yang cocok/sesuai tujuan (meliputi kecepatan perkecambahan dan pertumbuhan serta penanaman dlm skala besar/luas)
2. Konsentrasi senyawa PHK (dampak konsentrasi thd tumbuhan, tingkat toleransi tumbuhan thd senyawa pencemar)
3. Biotransformasi, bioakumulasi, dan pembuangan (utamanya pembuangan biomassa tanaman yang tercemar)
4.  Senyawa pencemar campuran (PHK plus logam berat, garam, pestisida, dll)
5. Teknik meningkatkan kemampuan fitoremediasi (pemupukan, pemberian surfaktan, dan pencangkulan)

Tabel 1. Daftar Tanaman yang telah Memperlihatkan Kemampuan Fitoremediasi Terhadap Senyawa PHK
Western wheatgrass (Agropyron smithii)            big bluetem (Andropogon gerardi)
Common buffalograss (Buchloe dactyloides)      blue grama (Bouteoua gracilis)
Bell rhodesgrass (Chloris gayana)                          prairie buffalograss (Buchloe dactyloides)
Annual ryegrass (Lolium multiflorum)                  bermuda grass (Cynodon dactylon)
Switchgrass (Panicum virgatum)                            Canada wild-rye (Elymus canadensis)
Sudangrass (Sorghum vulgare)                               Arctared red fescue (Festuca rubra var.)
Sorghum (Sorghum bicolor)                                    duckweed (Lemna gibba)
Side oats grama (Bouteloua curtipendula)           ryegrass/perennial ryegrass (Lolium perenne)
Carrot (Daucus carota)                                             Verde kleingrass (Panicum coloratum var.)
Tall fescue (Festuca arundinacea)                           bush bean (Phaseolus vulgaris)
Soybean (Glycine max)                                              winter rye (Secale cereale)
Alfalfa (Medicago sativa)                                          Indiangrass (Sorghastrum nutans)
Poplar trees (Populus deltoides x nigra)                Meyer zoysiagrass (Zoysia japonica)
Little bluestem (Schizachyrium scorparius)



Read More »